Tata kelola perusahaan (good corporate governance/GCG) semakin dipahami sebagai faktor strategis yang memengaruhi kepercayaan investor, reputasi, serta daya saing perusahaan. Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap isu tata kelola (governansi) dan ketidakpastian regulasi, perusahaan dituntut untuk tidak hanya patuh terhadap aturan, tetapi juga menunjukkan kualitas tata kelola yang kredibel dan berkelanjutan.
Merespons dinamika tersebut, Indonesian Institute for Corporate Directorship (IICD) menyelenggarakan Corporate Governance Briefing 2026 sebagai forum reflektif dan strategis bagi direksi, komisaris, dan praktisi governansi. Forum ini dirancang untuk memperkaya pemahaman peserta mengenai perkembangan ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) serta implikasinya bagi daya saing perusahaan Indonesia di tingkat regional.
Dalam paparannya, Dr. James Simanjuntak mengulas perkembangan kinerja Indonesia dalam ACGS sejak publikasi pertama pada 2012. Skor Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan, dari 43,2 pada 2012 menjadi sekitar 73,6 pada 2021. Meski demikian, Indonesia masih menghadapi tantangan struktural, khususnya pada aspek keterbukaan informasi (disclosure), konsistensi implementasi, dan efektivitas pengawasan dewan.
Dr. James menegaskan bahwa governansi tidak dapat dipahami semata sebagai kepatuhan administratif. Dengan bobot terbesar ACGS berada pada tanggung jawab dewan, kualitas tata kelola perusahaan pada akhirnya sangat ditentukan oleh komitmen dan kepemimpinan komisaris serta direksi. Tanpa evaluasi dan tindak lanjut yang konsisten, peningkatan skor tidak akan bertransformasi menjadi keunggulan yang berkelanjutan.
Perspektif korporasi disampaikan oleh Ibu Lina selaku Head of GCG & Sustainability dari PT Bank CIMB Niaga Tbk yang membagikan pengalamannya dalam membangun tata kelola secara konsisten dan berjangka panjang. Keunggulan dalam ACGS dicapai melalui komitmen manajemen puncak, integrasi prinsip GCG ke dalam budaya organisasi dan indikator kinerja (KPI), serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung pengawasan, kepatuhan, dan pelaporan. Pendekatan ini menegaskan pentingnya melampaui sekadar kepatuhan regulasi (beyond compliance).
Diskusi interaktif dalam forum ini juga menyoroti pentingnya konsistensi penegakan regulasi serta keterkaitan antara kualitas tata kelola, integritas sistem, dan kepercayaan pasar. Governansi yang kuat dipandang sebagai fondasi utama dalam memperkuat fundamental perusahaan dan membangun kredibilitas pasar modal Indonesia.
Corporate Governance Briefing 2026 menegaskan bahwa perjalanan penguatan tata kelola di Indonesia harus bergerak dari sekadar compliance menuju leadership. Governance excellence merupakan proses berkelanjutan yang bertumpu pada kepemimpinan, integritas, dan komitmen jangka panjang untuk melampaui standar minimum, demi mendorong daya saing nasional yang berkelanjutan.